Langsung ke konten utama

Mengapa Rajin Shalat Tapi Hidup Tak Juga Terasa Mudah?

 Pernah nggak sih bertanya dalam hati:

“Aku sudah shalat, sudah berdoa, tapi kenapa hidup masih berat?”

Pertanyaan itu wajar. Sangat manusiawi.
Dan jawabannya, mungkin, sudah lama dicontohkan lewat satu peristiwa besar dalam Islam: Isra Mi‘raj.



Isra Mi‘raj tidak terjadi saat hidup Nabi Muhammad ﷺ sedang baik-baik saja. Justru sebaliknya. Ia datang di fase paling gelap: wafatnya istri tercinta, Siti Khadijah, lalu pamannya Abu Thalib—dua sosok penopang hidup beliau. Belum cukup sampai di situ, dakwah beliau pun ditolak mentah-mentah di Thaif. Luka fisik, luka batin, semuanya menumpuk.

Kalau pakai istilah hari ini, Nabi sedang berada di titik burnout total.

Menariknya, di saat serapuh itu, Allah tidak menurunkan hiburan.
Tidak ada afirmasi manis.
Tidak ada jalan pintas agar hidup mendadak ringan.

Yang turun dari langit justru perintah shalat.

Bukan untuk menghapus luka.
Bukan untuk menghilangkan masalah.
Tetapi untuk menata ulang manusia yang terluka, agar tetap bisa berdiri.

Shalat sejak awal memang bukan escape dari hidup.
Ia bukan pelarian dari realitas.
Ia adalah latihan bertahan tanpa hancur.

Di sinilah rasanya kita bisa melihat jurang besar antara cara pandang manusia modern—termasuk di era AI—dengan pesan Isra Mi‘raj.

Dunia hari ini, seperti AI, lahir dari obsesi efisiensi:
memotong waktu,
mengurangi beban,
menyingkirkan lelah.

Sementara Isra Mi‘raj mengajarkan hal yang berlawanan:
bahwa makna hidup tidak lahir dari menghindari beban,
tetapi dari menanggungnya bersama Tuhan.

Perintah shalat pun tidak diturunkan lewat teks biasa. Padahal itu bisa saja. Lebih cepat. Lebih efisien. Allah cukup mengutus malaikat dan selesai.

Namun tidak.

Allah justru mengangkat seorang manusia—dengan tubuh, luka, dan keletihannya—naik ke langit. Lalu mengembalikannya ke bumi yang sama. Masalahnya tetap ada. Tantangannya tidak berkurang. Dunia tidak berubah.

Yang berubah adalah cara memandangnya.

Maka jika hari ini kita masih mengukur hidup dengan kecepatan, hasil, dan kemudahan—seperti logika dunia AI—barangkali kita belum sepenuhnya memahami rahasia Isra Mi‘raj.

Karena yang naik ke langit bukanlah orang yang ingin hidupnya lebih mudah.
Melainkan mereka yang tetap bersedia sujud,
bahkan ketika hidup sudah tidak lagi memberi alasan apa pun untuk bertahan.

Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup akan menjadi mudah setelah shalat.
Tapi Tuhan menjanjikan hidup akan menjadi lebih bermakna.

Itulah sebabnya shalat tidak berhenti pada gerakan. Ia tentang merasakan panggilan-Nya, memaknai kehadiran-Nya, dan menjalani hidup bersama-Nya—apa pun kondisinya.

Shalat bukan tentang hidup yang dipermudah.
Tetapi tentang keberanian menjawab panggilan Tuhan,
saat hidup tidak lagi terasa ramah.


Tian Lustiana is a ordinary people with extraordinary dreams.

Komentar