Pernah nggak sih bertanya dalam hati:
“Aku sudah shalat, sudah berdoa, tapi kenapa hidup masih berat?”
Isra Mi‘raj tidak terjadi saat hidup Nabi Muhammad ﷺ sedang baik-baik saja. Justru sebaliknya. Ia datang di fase paling gelap: wafatnya istri tercinta, Siti Khadijah, lalu pamannya Abu Thalib—dua sosok penopang hidup beliau. Belum cukup sampai di situ, dakwah beliau pun ditolak mentah-mentah di Thaif. Luka fisik, luka batin, semuanya menumpuk.
Kalau pakai istilah hari ini, Nabi sedang berada di titik burnout total.
Yang turun dari langit justru perintah shalat.
Di sinilah rasanya kita bisa melihat jurang besar antara cara pandang manusia modern—termasuk di era AI—dengan pesan Isra Mi‘raj.
Perintah shalat pun tidak diturunkan lewat teks biasa. Padahal itu bisa saja. Lebih cepat. Lebih efisien. Allah cukup mengutus malaikat dan selesai.
Namun tidak.
Allah justru mengangkat seorang manusia—dengan tubuh, luka, dan keletihannya—naik ke langit. Lalu mengembalikannya ke bumi yang sama. Masalahnya tetap ada. Tantangannya tidak berkurang. Dunia tidak berubah.
Yang berubah adalah cara memandangnya.
Maka jika hari ini kita masih mengukur hidup dengan kecepatan, hasil, dan kemudahan—seperti logika dunia AI—barangkali kita belum sepenuhnya memahami rahasia Isra Mi‘raj.
Itulah sebabnya shalat tidak berhenti pada gerakan. Ia tentang merasakan panggilan-Nya, memaknai kehadiran-Nya, dan menjalani hidup bersama-Nya—apa pun kondisinya.

Komentar
Posting Komentar